Beranda » Artikel Islamic » MENGENAL DAN MEMULIAKAN SAHABAT NABI

 

Para Sahabat Nabi merupakan generasi terbaik ummat ini. Mereka adalah generasi yang Allah Ta’ala ridhoi. Mereka juga generasi yang paling memahami Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah generasi yang dijamin masuk surga oleh Allah. Mereka adalah kaum yang secara jelas dan tegas kita dilarang mencela mereka. Mereka penerus risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, generasi yang memiliki jasa besar terhadap ummat ini.

Pengertian Sahabat

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajr al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan, “Shahãbiy (sahabat) adalah yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan keimanan”. (Al-Ishõbah fî tamyîz as-Shahãbah 1/158)

Dengan apa bisa dipastikan status seseorang sebagai sahabat?

Menurut Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajr al-‘Asqalani rahimahullah (Nuzhah An-Nadzar, hlm. 142) seseorang diketahui bahwa beliau sahabat adalah dengan lima hal:

  1. Kabar yang mutawatir atau banyaknya yang mengatakan bahwa dia adalah seorang sahabat, dimana jumlah yang banyak tersebut mustahil sepakat berdusta.
  2. Syuhroh (ketenaran/ terkenal)
  3. Kabar atau informasi riwayat yang disampaikan sahabat lainnya
  4. Kabar atau riwayat yang disampaikan tabi’in yang terpercaya. Tabi’in adalah orang Muslim yang bertemu dengan sahabat.
  5. kabar dari dirinya sendiri bahwa beliau adalah sahabat, dan ada kemungkinan demikian

Keutamaan Sahabat

Keutamaan para sahabat dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

1. Jaminan Surga
Para sahabat merupakan orang-orang yang telah mendapatkan jaminan syurga dari Allah. Allah Ta’ala berfirman berfirman tentang mereka.

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah (9):100)

Syaikh Prof. Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifary hafizhahullah mengatakan, “Yang dimaksud orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah sahabat-sahabat lainnya yang terlambat keislamannya dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang pertama-tama masuk islam di antara Muhajirin dan Anshar, maka ayat ini mencakup seluruh sahabat.” (Mabahits fî al-‘Aqidah hal. 216)

2. Memiliki Sifat Mulia
Allah Ta’ala memuji para shabat, karea mereka memilki sifat-sifat mulia. Allah berfirman tentang sifat-sifat mulia para sahabat;

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (Qs Al-Fath (48):29).

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

“Dari ayat ini al-Imam Malik rahimahullah berkesimpulan tentang kafirnya orang-orang Rafidhah yang di mana mereka membenci sahabat-sahabat, dan karena mereka jengkel terhadap para sahabat, barang siapa jengkel kepada sahabat maka dia kafir, sebagaimana di dalam ayat”. (Tafsir Ibn Katsir 7/362)

3. Sifat Itsar
Salah saifat mulia sahabat yang mendapatkan pujian Allah dalam Al-Qur’an adalah sifat itsar, mengutamakan satu sama lain di antara mereka dalam urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridhaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan An¡ar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Qs Al-Hasyr (59):8-10)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Rafidhah keluar dari 3 sifat ini, karena mereka:

1. Tidak memintakan ampun untuk orang-orang terdahulu (yaitu para sahabat)

2. Di hati mereka ada kebencian terhadap sahabat

3. Di dalam ayat adanya pujian terhadap para sahabat, dan Ahlussunnahlah yang mengambil alih itu, sedangkan Rafidhah tidak termasuk (bahkan mereka mencaci maki sahabat).” (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 2/18)

4. Para Sahabat sebagai Penentram Ummat
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Dari Abu Burdah dari Bapaknya dia berkata, “Kami pernah melaksanakan shalat berjamaah bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian kami berkata; ‘Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah ﷺ sambil menunggu waktu shalat Isya’. Bapak Abu Burdah berkata; ‘Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah ﷺ mendatangi kami seraya bertanya: ‘Kalian masih di sini? ‘ Kami menjawab, Benar ya Rasulullah! Kami telah melaksanakan shalat Magrib berjamaah bersama engkau. Oleh karena itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat Isya berjamaah dengan engkau.” Rasulullah pun berkata, “Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.” Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata, ‘Bintang-bintang ini merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penenteram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah penenteram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” (HR Muslim 2531)

Generasi Terbaik
Para Sahabat adalah generasi terbaik ummat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian orang-orang pada masa berikutnya.” (Muttafaq ‘Alaih, HR Al-Bukhari 6429, dan Muslim 2533)

Keutamaan Sedekah Para Sahabat
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud, tidak akan ada yang menyamai satu mud (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya”. (Muttafaqun ‘Alaihi, HR Al-Bukhari 3673, dan Muslim 2541)

Kewajiban Terhadap Sahabat

1. Mencintai mereka tanpa sikap ghuluw berlebihan dan tidak pula merendahkan mereka. Kita mencintai para sahabat karena mereka adalah sahabat sekaligus penerus risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pembawa agama Allah Ta’ala karena dengan merekalah agama Allah Ta’ala sampai kepada kita, maka celaan dan tuduhan terhadap mereka sama saja menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah orang-orang kecintaan, kesayangan, dan para penolong beliau.

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Mereka yang mencela/ menuduh para sahabat Rasulullah, hingga ada yang berkata, “Orang yang buruk memiliki sahabat yang buruk, sekiranya orang shalih maka para sahabatnya juga shalih”.” (Majmu al-Fatawa 4/429)

2. Memuji mereka sebagaimana Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji mereka, dan menyebut kebaikan-kebaikan mereka meskipun manusia biasa tidak luput dari kesalahan, maka tidak sepantasnya kita untuk menghinanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah kita terangkan sebelumnya untuk tidak mencela sahabat-sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

3. Selalu mengucapkan, “Semoga Allah meridhoi mereka” setiap kali nama mereka kita sebutkan karena Allah Ta’ala telah meridhoi mereka semuanya, dan berdoa kebaikan kepada Allah Ta’ala untuk mereka, sebagaimana dalam surah al-Hasyr ayat 10 yang telah kita sebutkan.

4. Mengikuti pemahaman mereka dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah, karena mereka hidup di saat-saat wahyu turun, dan mereka paling paham dengan maksud ayat dan hadits. Wallahu a’lam. []

Penulis: Sayyid Syadly, Lc

Sumber dari: https://wahdah.or.id/mengenal-dan-memuliakan-sahabat-nabi/

# Silahkan Bagikan informasi Bermanfaat ini Kepada Teman Atau Kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

error: Content is protected !!